Antri BBM

Ada banyak kejadian yang membuat saya kaget atau sekedar terheran heran. sudah satu minggu ini hampir di setiap SPBU di beberapa kota terjadi antrian panjang untuk mengisi BBM. lucu nya lagi justru kejadian in terjadi hanya beberapa hari setelah kita menandatangani perjanjian eksplorasi blok cepu yang menurut berita burung memilik cadangan antara 600 juta hingga 2 Milyar barell, walaupun entah benar atau hanya isu.

keheranan pertama adalah kenapa mekanisme yang sudah berjalan bertahun tahun kok bisa amburadul juga ya?

padahal kalau mau itung itungan bener pertamina seharusnya sudah bisa "dewasa" dalam sistem stock bahan bakar, masa sih sudah lebih dari lima puluh tahun bisnis minyak dan melayani bangsa tapi belum "hafal" tren demand pasar? rasanya tidak mungkin.

pura pura tidak tahu trend permintaan mungkin lebih tepat disebut begitu, atau tahu tapi tidak berkehendak merespon itu kemungkinan kedua, atau tahu, dan mau merespon tapi tidak berdaya karena faktor X itu juga mungkin (kenapa ya orang suka pake huruf X kenapa ngga faktor A atau faktor D hehhehe…. :)…. )

menurut isu yang tidak bisa dipercaya konon penyebab kelangkaan awalnya disebabkan oleh seretnya cashflow di pertamina, karena utang pemerintah dalam bentuk subsidi BBM tidak bisa segera cair, (AR overdue) kabar terakhir angkanya hampir 30 Trilyun, disamping itu utang utang institusi pemerintah dan BUMN juga sama Overdue juga. walaupun tiap sinstitusi utangnya "kecil-kecil" sekitar 6-30 milyar tetap kalau dijumlah lumayan juga.

Isu lain setelah beberapa hari yang lalu utangan pemerintah ini dibayar muncul isu baru, perselisihan angka total impor yang diperbolehkan sehubungan dengan asumsi total subsidi di APBN.

Sudah bukan rahasia lagi kalau kebutuhan BBM kita sekarang 30% nya adalah impor, dan tidak perlu heran, minyak mentah di kita yang kita sedot di darat maupun di laut, hampir sebagian besar dikirim ke luar sebagai minyak mentah, dan kita impor dari luar dalam bentuk BBM. kilang yang ada di balongan, cilacap maupun balikpapan tidak bisa mencukupi kebutuhan BBM di dalam negeri.

Yang lebih membuat kita heran adalah reaksi pemerintah menanggapi krisis energi ini. baik eksekutif maupun legislatif secara "rata-rata" hanya bersifat reaktif, bukan antisipatif, dan berpikir dengan logika jangka pendek dan kelihatanya seperti pekerjaan tanpa grand design atau strategi jangka panjang. walau beragam ide nya kurang lebih seragam, mengerem pertumbuhan. tidak terlalu buruk sih ide seperti itu, tapi kurang kreatif dan untuk jangka panjang tidak menguntungkan. ide ide pemerintah antara lain, pajak progresif untuk mobil kedua dst, pembatasan jalan dengan plat nomor ganjil genap, menaikkan tarif BBN dan pajak kendaraan, dan seterusnya dan himbauan untuk mengurangi aktivitas serta mengerem pertumbuhan industri otomotif. ya itu, intinya mengerem laju pertumbuhan ekonomi, padahal tanpa di rem pun laju pertumbuhan ekonomi kita sudah seperti keong. bayangkan dengan pendapatan rata rata hanya sekitar US $ 1.000,  dan laju pertumbuhan terbaik kita hanya sekitar 4,5-5% saja, berarti untuk meningkatkan pendapatan perkapita menjadi 2.000 dollar saja kita akan memrlukan waktu hampir 15-20 tahun. padahal setelah 20 tahun (th 2025) mungkin tetangga sebelah kita sudah berpendapatan diatas 10.000 dollar US, apa kita tidak akan tetap menjadi eksportir Pembantu? itu pun tanpa di rem artinya kita jor joran meningkatkan investasi dan konsumsi, bolak balik keluar negeri "merayu" investor, membuka pasar sebabas bebasnya dan menjual semua perusahaan kita kepada asing demi menyenangkan hati investor termasuk sibuk nguber nguber baasir, agar paman gober senang.

Apa jadinya kalau kita mengerem pertumbuhan tanpa ada strategi jangka panjang?

tindakan seperti ini bisa kita umpamakan seperti kalau dalam keluarga sedang ada krisis penurunan penghasilan, apakah benar bisa diatasi dengan tidur rame rame tanpa aktivitas? Ok lah jangka pendek operasional expense pasti turun ayah tidak perlu bensin ke kantor, ibu tidak perlu beli gas untuk memasak, tidak perlu bayar listrik ke PLN, tidak perlu beli pulsa atau bayar telp ke Telkom, kalau satu keluarga kita tidur terus kerjaanya pasti pengeluaran akan turun.

tapi pikirkanlah setelah 10 hari, setelah 30 hari, setelah satu tahun. tanpa rencana yang sistematis, pengurangan aktivitas malah akan kontra produktif, ayah akan dipecat di kantor, atau bisnisnya akan habis, anak akan tertinggal pelajaran karena tidak belajar dan kesekolah jalan kaki jadi sering telat, belajar jadi lemes karena kurang gizi, dst.

jadi alangkah tidak bijaksana bila kita melakukan penghematan tanpa rencana

jadi apa kita harus tetap boros?

tidak juga bukan begitu maksudnya. rencana jangka panjang dan sistematis lebih penting daripada hanya sekedar simbolis matiin AC diistana.  ngirit harus tapi harus ada rencana yang benar, jangan sampai mengurangi efektivitas dan pertumbuhan, efisiensi adalah keharusan tapi efektivitas dan produktivitas juga harus dijaga. kita tidak boleh mengorbankan efektifitas dan kegiatan kita terhambat, pertumbuhan menurun hanya karena pengen ngirit.

jadi jangan korbankan produktivitas, justru kalau bisa kita naikkan aktivitas kita agar dalam satu satuan waktu kita bisa menghasilkan produk lebih banyak, logika nya semakin banyak produk baik jasa ataupun barang yang dihasilkan dalam setiap satuan waktu akan menyebabkan turunnya opex indirect yang terkandung dalam suatu barang/jasa.

Leave a Reply