Schapelle Corby dan Etika Bertetangga

Schapelle corby, seorang criminal kampung, baru baru ini mengguncang hubungan Indonesia Australia, betapa tidak, seorang penjahat kelas teri untuk ukuran indonesia dan australia bisa mengundang simpati luas di negara asalnya dan menimbulkan hal hal rasial yang mengganggu hubungan dua tetangga. mulai dari komentar harian harian di Australia hingga reaksi masyarakat dan kalangan kriminal serta terorist australia sendiri dirasakan sangat berlebihan, over acting dan kampungan.

sudah jelas dan tidak perlu diragukan, corby adalah penyelundup, penjahat, kriminal, sudah terbukti di persidangan lalu kenapa kita harus diam menerima teror?, sementara warga kita di australia ditangkap dipenjara digerebek, dituduh terorist, diinterogasi bahkan disiksa walau akhirnya tebukti tidak bersalah kita diam saja?

Warga indonesia sangat santun dan menghargai proses hukum di Australia, tidak pernah ada pengiriman serbuk bakteri ke kedubes australia di jakarta saat banyak mahasiswa kita digerebek dan diinterogasi hanya karena beragama islam dan pernah menghadiri pengajian baasiir beberapa tahun yang lalu, kita diam walaupun kita tahu itu tidak fair.

lalu si bangsa bule goblok itu sekarang menginjak injak harga diri kita dengan mengancam, menekan, dan mengintimidasi kedubes kita di australia, walau sudah jelas si corby adalah criminal dan tidak perlu dibela, kecuali oleh sesama criminal.

dari kejadian kejadian seperti ini sudah selayaknya kita belajar, bahwa sekali lagi australia bukan tetangga yang baik, setidaknya bagi kita bangsa asia khususnya apalagi bagi muslim. kita sudah sering mendengar orang orang china atau vietnam di hina atau diludahi dijalan hanya karena sipit dan terlalu "asia" di australia. kita juga sudah sering mendengar kampanye rasialis dan anti imigran di australia terutama bagi imigran asia, padahal mereka sendiri sebenarnya imigran gelap dari eropa yang menjajah kaum aborigin hingga terpinggirkan dan musnah. kita bangsa bangsa asia khususnya, harus bersatu padu menghadapi bangsa arogan penjajah dari eropa ini. bangsa minoritas ini bisa menjadi duri dalam daging dalam setiap dinamika asia, bangsa australia terlalu eropa atau terlalu amerika, dan tidak bisa meleburkan diri dalam wadah asia. bangsa ini cenderung arogan dan merasa punya beking paman gober atau inggris, hingga sering berbuat sewenang wenang terhadap tetangga dekatnya di asia.

Bangsa ini tidak pernah punya niat tulus di kawasan, masih ingat saat Australia ngotot ingin "membebasakan" Timor Timur dari "penjajahan" Indonesia? ternyata setelah bebas terbuka lah belangnya si bangsa penjajah ini, niatnya hanya ingin menguasai minyak di celah timor yang sungguh berlimpah, karena kalau masih dalam genggaman indonesia Australia harus berpikir seribu kali untuk mencaplok minyak di celah Timor. bisa dilihat sekarang, setelah "dimerdeka kan " oleh Australia, kehidupan orang TimTim semakin sulit, bahaya kelaparan dan kemiskinan makin merajalela, infrastruktur tidak kuasa dibangun. dulu hampir seluruh jalan di Tim Tim diaspal mulus, dan ratusan pemuda selalu mendapat kucuran beasiswa dari Jakarta. cobalah tengok sekarang, jangankan jalan beraspal, kebutuhan sehari hari saja harus menunggu bantuan PBB dan belas kasihan Indonesia. sementara Australia dengan bebasnya menyedot ratusan ribu barel binyak setiap hari dari Celah Timor tanpa mau sedikit berbagi dengan pemilik sah minyak tersebut, sungguh ironis nasib sebuah negeri yang sudah dimerdekakan Australia ini. itulah satu contoh kelicikan Australia di kawasan ini, yang bisa menjerumuskan kawasan atau tetangga yang "manut" menjadi bangsa miskin dan makin tergantung pada bangsa barat, maka waspadalah waspadalah.

Leave a Reply